Connect with us

Berita

Habibi Vonis Matinya Nurani Penguasa, Istana Tak Cukup Minta Maaf dan Bubarkan Kabinet

Published

on

Jakarta,- Jumat, 28 Agustus 2025, hingga saat ini, Indonesia masih digoncang oleh demonstrasi besar-besaran yang melibatkan ribuan pendemo menuntut perubahan dan menyuarakan serangkaian protes mereka. Mulai dari tuntutan untuk membubarkan DPR hingga tragedi kematian “syahid” seorang driver Ojek Online yang dilindas oleh mobil baja Barracuda milik polisi, rangkaian kejadian ini telah menyulut kemarahan masyarakat.

Tak hanya itu, isu-isu krusial juga terus muncul dan memperlihatkan kondisi negara yang semakin memburuk setiap harinya, baik dari segi kebijakan pemerintah maupun pengaturan ekonomi yang tidak kondusif. M. Habibi, seorang alumni Pascasarjana Kajian Intelijen Universitas Indonesia, menilai bahwa tindakan pemerintah telah melebihi batas dalam melanggar kehendak rakyat, terutama di ranah eksekutif dan legislatif.

Menurut Habibi, hal-hal yang patut dipertimbangkan antara lain sikap anggota DPR dan pejabat yang dianggap tidak berpihak pada rakyat dan terperangkap dalam ambisi memperkaya diri sendiri. Selain itu, lonjakan nilai tukar Dollar yang meroket, kelambanan KPK dalam memberantas korupsi, kekurangan keamanan dari pihak kepolisian, dan perlambatan penegakan HAM turut menambah kerumitan situasi saat ini.

Ketakutan akan kekacauan yang semakin merajalela ini memunculkan kekhawatiran akan arah pemerintahan ke depan. Demonstrasi yang masih terus berlangsung menjadi bukti nyata ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah Indonesia.

Untuk merespons kondisi ini, Habibi mendesak Presiden segera bertindak sesuai tuntutan rakyat, yang mencakup: pertama, pembubaran DPR yang dinilai merusak hubungan kepercayaan dengan rakyat; kedua, pencopotan Kapolri Sigit Prabowo karena dianggap tidak dapat diandalkan; ketiga, reshuffle di kabinet Merah Putih untuk menstabilkan situasi politik, ekonomi, dan sosial; keempat, Presiden Prabowo diharapkan mengambil alih komando keamanan nasional; kelima, tidak membiarkan Sufmi Dasco Ahmad menguasai situasi politik nasional. Desakan ini diharapkan mendorong perubahan positif untuk kepentingan bersama.

Kesatuan dalam menuntut perubahan adalah kunci untuk menyelamatkan negara ini dan kembali kepada nilai-nilai Pancasila serta UUD 1945 yang sejati demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia. (Ok)

Jakarta, kemarin dan hari ini mencekam, ribuan pendemo turun aksi untuk menuntut rangkaian protes yang mereka suarakan. Dari perihal tuntutan bubarkan DPR, hingga yang terbaru terkait seorang driver Ojek Online yang meninggal “syahid” dilindas mobil baja Barracuda milik polisi. Mengamati gejola yang terjadi, rangkaian persitiwa ini menjadi alasan fundamental untuk bangsa ini berbenah, atau bersedia besar hati merelakan dirinya pecah.

Isu-isu yang bertebaran juga tak kalah menarik, seakan setiap hari negara memberi kabar buruk kepada masyarakat, baik dalam konteks isu kebijakan maupun tata kelola ekonomi yang menyusahkan. Pengamatan M. Habibi (Alumni Pascasarjana Kajian Intelijen-Universitas Indonesia) memvonis apa yang dilakukan pemerintah telah sangat jauh melenceng dari kehendak rakyat, baik dalam rumpun eksekutif maupun legislatif.

Baginya, Hahibi mengamati ada beberapa hal yang perlu ditekankan, seperti sikap DPR dan pejabat yang tidak pro-rakyat, hingga terjatuh dalam delusi meng-kaya-kan dirinya sendiri. Kurs Dollar yang kian naik melambung, tumpulnyan KPK dalam proses pemberantasan korupsi, polisi yang tidak benar-benar menjalankan tugasnya untuk pro kepada kemanan rakyat, hingga melemahnya HAM.

Kacau balau negeri yang mengakibatkan kehancuran ini menambah daftar prihatin atas pertanyaan akan dibawa ke mana pemerintahan ini kedepannya. Kejadian demonstrasi yang masih berlangsung menjadi daftar hitam pelanggaran pemerintah kepada majikannya sendiri, yakni rakyat Indonesia.

Dalam konteks pengolalaan, perlu ada pembenahan dan tuntutan langsung yang disuarakan, M. Habibi mendesak Presiden untuk sesegera mungkin menjalankan amanat rakyat, dengan tuntutan sebagai berikut: Pertama, bubarkan DPR karena telah menciderai hati nurani rakyat dengan egonya yang kian tidak masuk akal. Kedua, Copot Kapolri Sigit Prabowo, karena tidak amanah atas tugasnya. Ketiga, resuffle semua menteri, sekaligus kabinet Merah Putih yang dinilai tak mampu mengendalikan kestabilan politik, ekonomi dan sosial hari ini. Keempat, biarkan Presiden Prabowo mengambil alih komando keamanan nasional dan, Kelima, jangan biarkan Sufmi Dasco Ahmad mendominasi eskalasi politik nasional. Desakan ini menjadi refleksi bersama untuk kepentingan bangsa.

Upaya kolektif untuk menyuarakan tuntutan di atas perlu kita renungkan bersama, demi mengembalikan bangsa pada reel pakem kenegaraan yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan benar-benar untuk kepentingan rakyat Indonesia. (Ok)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Megengan: Tradisi yang Menyambung Ruh Ramadhan, Pesantren Al Azhaar Hidupkan Spirit Menyambut Bulan Suci

Published

on

Tulungagung – Suasana Sabtu pagi (14/2/2026) di Gedung Dakwah Abi KH. M. Ihya Ulumiddin terasa berbeda dari biasanya. Ribuan jama’ah Majlis Dzikir Jama’i Al Azhaar memadati lokasi dengan satu tujuan: menyambut datangnya Ramadhan dengan hati yang penuh kegembiraan dan harap.

Pesantren Al Azhaar Kedungwaru kembali menghidupkan tradisi Megengan, sebuah warisan budaya spiritual yang sederhana namun kaya makna. Tradisi ini bukan hanya sekadar berkumpul atau makan bersama, tetapi menjadi ruang persiapan batin sebelum memasuki bulan suci.

Pengasuh Pesantren Al Azhaar, KH. Imam Mawardi Ridlwan, menegaskan bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan adalah tanda hati yang terpatri iman.

“Hati yang terpatri dengan iman selalu bergembira atas tibanya Ramadhan. Sikap itu akan memberi dampak ketersambungan ruh dengan Tarbiyah Ramadhan,” tutur beliau.

Menurut Abah Imam, Megengan adalah latihan jiwa agar iman selaras dengan tarbiyah Ramadhan. Ketika hati sudah siap, ibadah pun akan terasa lebih ringan dan penuh ketenangan.

Begitupun juga menjelaskan, orang yang telah menyambungkan ruhnya dengan Ramadlon akan menjalani ibadah dengan lebih mudah, lebih khusyuk, lebih istiqomah, serta merasakan Ramadhan sebagai kebahagiaan, bukan beban.

Tradisi Megengan, lanjut beliau, menjadi cara menyiapkan semangat agar Ramadhan dijalani dengan giat dan penuh kesungguhan.

“Tradisi Megengan sangat perlu dilanjutkan di setiap generasi,” tutup Abah Imam.

Di tengah hiruk-pikuk zaman digital yang sering melalaikan manusia dari kedalaman ruhani, Megengan hadir sebagai oase. Tradisi ini mengingatkan bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya soal pergantian kalender, tetapi tentang menyiapkan hati untuk menerima tarbiyah dan cahaya bulan suci. (Ok)

Continue Reading

Berita

Suasana Haru Warnai Pisah Sambut Kapolsek Kedungwaru, AKP Sumaji Serahkan Tongkat Komando kepada AKP Karnoto

Published

on

Tulungagung,- Suasana penuh khidmat mewarnai acara pisah sambut Kapolsek Kedungwaru yang digelar di Lotus Garden Kedungwaru, Jumat (31/10/2025). Dalam momen tersebut, AKP Sumaji, SH secara resmi menyerahkan tongkat komando kepada penggantinya, AKP Karnoto, SH, sebagai bagian dari rotasi dan penyegaran di jajaran Kepolisian Resor Tulungagung.

Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), seluruh kepala desa se-Kecamatan Kedungwaru, Pengasuh Pondok Pesantren Al Azhaar Kedungwaru KH Imam Mawardi Ridlwan, Ketua MWCNU Kedungwaru Gus Nanang Bukhori, para pimpinan perguruan, serta perwakilan berbagai elemen masyarakat.

Dalam sambutannya, Camat Kedungwaru Tulungagung, Rahmad Adhityo Kuncoro, S.STP, MM menyampaikan apresiasi atas dedikasi AKP Sumaji yang dinilai berhasil menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Kedungwaru tetap kondusif.

“Saya dengan Kapolsek dan Danramil selalu kompak. Semoga AKP Sumaji di tempat tugas baru di Kecamatan Bandung semakin berkah dan betah. Selamat datang AKP Karnoto di Kecamatan Kedungwaru. Mari bersama memperkuat kebersamaan agar Kedungwaru tetap kondusif,” ujar Rahmad dalam sambutannya.

Sementara itu, Danramil Kedungwaru Kapten Infantri Edi Mulyono menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga keharmonisan wilayah. Ia menyebut, kebersamaan antara aparat dan masyarakat menjadi kunci terciptanya situasi yang aman dan tertib.

Dalam kesempatan yang sama, AKP Sumaji menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan semua pihak selama masa pengabdiannya.

“Saya bangga pernah menjadi bagian dari keluarga besar Polsek Kedungwaru. Terima kasih atas sinergi dan kebersamaan yang terjalin. Semoga AKP Karnoto dapat melanjutkan tugas dengan lebih baik dan membawa Polsek Kedungwaru semakin dekat dengan masyarakat,” tutur Sumaji.

Sementara itu, dalam sambutan perdananya, AKP Karnoto menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan program-program positif pendahulunya serta memperkuat pendekatan humanis dalam menjalankan tugas kepolisian.

“Kita berkumpul digerakkan oleh Yang Maha Menggerakkan. Mohon bimbingan dan arahan dari semua pihak. Saya bertekad untuk terus membangun komunikasi aktif dengan masyarakat, tokoh agama, dan seluruh stakeholder demi mewujudkan Kedungwaru yang aman, kondusif, dan penuh keberkahan,” kata Karnoto.

Acara pisah sambut ditutup dengan pemberian tali asih, sesi foto bersama, serta ramah tamah yang berlangsung hangat. Momen ini menjadi simbol keberlanjutan semangat pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat Kedungwaru. (Ok)

 

 

Continue Reading

Berita

Dua Pemotor Tewas Disambar Bus Harapan Jaya di Tulungagung, Jalan Pahlawan Kembali Telan Korban

Published

on

Tulungagung,- Suasana siang di Jalan Pahlawan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur, mendadak mencekam pada Jumat (31/10/2025). Dua pengendara sepeda motor tewas seketika setelah disambar bus Harapan Jaya yang hilang kendali di depan SPBU Rejoagung, sekitar pukul 12.30 WIB.

Tubuh korban terpental beberapa meter, sementara sepeda motor mereka ringsek nyaris tak berbentuk. Peristiwa tragis ini juga menyebabkan satu pengendara lain mengalami luka berat dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Menurut keterangan saksi mata, kecelakaan bermula ketika dua sepeda motor melaju pelan di tengah jalan dan hendak berbelok masuk ke area SPBU. Dari arah selatan, bus Harapan Jaya bernomor polisi AG 7767 US melaju dengan kecepatan tinggi. Sopir bus diduga mengambil jalur kanan untuk menghindari kendaraan di depannya.

Di saat bersamaan, bus Harapan Jaya lain AG 7697 W datang dari arah utara dan hendak masuk ke SPBU. Melihat bus di depannya, sopir AG 7767 US mendadak mengerem. Namun karena kecepatan tinggi, bus oleng dan berputar ke arah selatan. Bagian belakang bus tersebut kemudian menyambar dua sepeda motor di sisi jalan.

Benturan keras tak terhindarkan. Dua pengendara, masing-masing mengendarai Honda Vario 125 putih S 2192 QF dan Honda Supra X hitam AG 3984 UM, tewas di lokasi kejadian.

Kasatlantas Polres Tulungagung, AKP M. Taufik Nabila, S.T.K., S.I.K., M.H., membenarkan peristiwa nahas tersebut.

“Bus Harapan Jaya AG 7767 US melaju dengan kecepatan tinggi dan sempat mengambil jalur kanan untuk menghindari kendaraan lain. Karena laju tinggi, bus kehilangan kendali, berputar, dan bagian belakangnya menghantam dua motor. Dua orang meninggal dunia di lokasi,” ujar Taufik saat dikonfirmasi, Jumat sore.

Petugas Unit Laka Lantas Polres Tulungagung langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan dua bus beserta kendaraan korban untuk penyelidikan lebih lanjut. Polisi kini mendalami unsur kelalaian dan kemungkinan pelanggaran lalu lintas oleh sopir bus.

Kecelakaan ini sempat menyebabkan kemacetan lebih dari satu kilometer. Warga sekitar hanya bisa menyaksikan dengan cemas proses evakuasi korban dan kendaraan yang berlangsung menegangkan.

“Bus-bus sering ngebut di sini. Jalannya sempit, dekat SPBU, tapi kecepatan seperti di tol. Kami takut setiap kali nyebrang,” ujar salah satu warga Rejoagung.

Insiden ini kembali menambah panjang daftar kecelakaan di Jalan Pahlawan, jalur yang dikenal rawan karena padat kendaraan dan minim disiplin pengendara.

Di tengah kepadatan arus lalu lintas, tragedi di Tulungagung ini menjadi pengingat bahwa kelalaian di jalan raya hanya butuh sedetik untuk mengubah segalanya. (Ok)

 

Continue Reading

Trending