Connect with us

Berita

Jalan Rusak Ditanami Pohon Pisang, Simbol Protes atau Tanda Putus Asa, Talkshow di Tulungagung Kupas Akar Masalah hingga Jalur Hukum

Published

on

TULUNGAGUNG,- Fenomena penanaman pohon pisang di tengah jalan rusak parah yang viral dalam sepekan terakhir di Tulungagung akhirnya menjadi bahan diskusi serius. Aksi spontan warga yang dianggap unik sekaligus menyentil ini diangkat dalam sebuah talkshow bertajuk “Jalan Rusak Ditanami Pohon, Simbol Protes atau Tanda Putus Asa???” yang digelar pada Senin malam (23/02/2026) pukul 20.30–22.15 WIB di Echoise Cafe Resto, Kios KAI Kenayan, Tulungagung.

Talkshow yang rutin membahas fenomena aktual masyarakat ini menghadirkan narasumber dari Dinas PUPR, Bappeda, akademisi, praktisi hukum, serta perwakilan masyarakat dari elemen LSM 212. Diskusi berlangsung dinamis, membedah persoalan dari hulu hingga hilir.

Akar Masalah: Mandatory Spending Infrastruktur Tak Tercapai

Dalam forum tersebut, seluruh narasumber pada prinsipnya sepakat bahwa masifnya kerusakan jalan berat di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, tidak terjadi secara tiba-tiba. Salah satu faktor dominan adalah tidak tercapainya mandatory spending anggaran infrastruktur.

Beberapa penyebab yang mengemuka antara lain:

Refocusing anggaran untuk kebutuhan prioritas lain

Efisiensi anggaran

Pergeseran kebijakan pemerintah pusat yang berdampak pada daerah

Akibatnya, alokasi anggaran perbaikan jalan tidak maksimal terealisasi, sementara beban kerusakan terus bertambah seiring tingginya mobilitas dan distribusi logistik.

Fenomena penanaman pohon pisang di tengah jalan berlubang dinilai sebagai bentuk ekspresi kekecewaan warga. Selain sebagai penanda bahaya agar tidak memakan korban, aksi tersebut juga sarat pesan simbolik: kritik terhadap lambannya penanganan.

Praktisi Hukum: Warga Punya Hak, Jangan Hanya Tanam Pisang

Sehari setelah talkshow, Selasa (24/02/2026), praktisi hukum Fayakun, S.H., M.H., M.M. memberikan penegasan melalui pesan WhatsApp terkait hak hukum masyarakat atas kondisi infrastruktur jalan yang tidak mantap.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya terpaku pada pola aksi simbolik seperti menanam pohon pisang.

“Sebagai masyarakat, memiliki hak hukum untuk menuntut perbaikan infrastruktur jalan yang rusak berat dan berpotensi menyebabkan kecelakaan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Penyelenggara jalan wajib segera memperbaiki atau memberi tanda pada jalan rusak,” ujarnya.

merujuk pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan sebagai dasar hukum tanggung jawab penyelenggara jalan.

Langkah yang Bisa Dilakukan Masyarakat

Fayakun memaparkan beberapa langkah konkret yang dapat ditempuh warga:

Tindakan Preventif & Pelaporan Resmi

Langkah awal yang paling utama adalah dokumentasi.

Ambil foto atau video yang jelas menunjukkan kerusakan, lokasi, dan potensi bahayanya.

Identifikasi kewenangan jalan:

Jalan Nasional (Kementerian PUPR).

Jalan Provinsi (Dinas PU Provinsi).

Jalan Kabupaten/Kota (Dinas PUPR Daerah).

Laporkan secara resmi ke pemerintah daerah setempat.

Jika tidak ada respons, laporkan ke Ombudsman RI.

Jika Sudah Terjadi Kecelakaan

Jika jalan rusak telah menimbulkan korban, langkah hukum bisa ditempuh.

Berdasarkan Pasal 273 UU LLAJ, penyelenggara jalan yang tidak segera memperbaiki atau memberi tanda pada jalan rusak sehingga menyebabkan kecelakaan dapat dipidana penjara (ringan hingga 6 bulan, berat hingga 1 tahun) atau denda hingga Rp24 juta.

Selain itu, korban juga dapat mengajukan gugatan perdata sesuai Pasal 1365 KUHPerdata untuk menuntut ganti rugi.

Tak hanya itu, Fayakun juga membuka opsi Citizen Lawsuit (Gugatan Warga Negara).

“Jika jalan rusak tersebut merugikan banyak orang secara umum, kelompok masyarakat dapat mengajukan citizen lawsuit ke pengadilan untuk menuntut pemerintah memperbaiki jalan tersebut,” pungkasnya.

Dari Simbol ke Solusi

Fenomena jalan rusak yang ditanami pohon pisang di Tulungagung kini bukan lagi sekadar viralitas media sosial dan menjadi simbol akumulasi keresahan publik.

Talkshow tersebut setidaknya membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat. Bahwa di balik pohon pisang yang berdiri di tengah jalan berlubang, tersimpan pesan kuat: warga ingin keselamatan, kepastian, dan tanggung jawab nyata.

Kini, pertanyaannya bukan lagi sekadar simbol protes atau tanda putus asa. Tetapi sejauh mana semua pihak mampu mengubah simbol itu menjadi solusi konkret demi keselamatan bersama.

Konstributor : Eko S
Penulis : Ok

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Cetak Kader Juleha Muda, PAC Ansor Kota Tulungagung & Santri Creative Hub Gelar Upgrading Juru Sembelih Syar’i

Published

on

TULUNGAGUNG – Guna memastikan ketersediaan daging konsumsi yang halal dan sesuai syariat, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Kota Tulungagung berkolaborasi dengan Santri Creative Hub menggelar pelatihan bertajuk “Upgrading Juru Sembelih Syar’i”. Acara yang diikuti oleh 70 peserta ini berlangsung khidmat dengan memadukan pendalaman literatur kitab klasik dan praktik lapangan.
Kegiatan ini menghadirkan dua pakar yang mumpuni di bidangnya, yakni Dr. Syamsul Rifai, M.Pd. (Dosen UIN Satu Tulungagung sekaligus praktisi Juleha) dan Bpk. Khoirul Anam, S.Pd.I (Wasek PCNU Tulungagung & Praktisi Juleha). Kehadiran keduanya memberikan kombinasi perspektif akademis dan pengalaman teknis bagi para peserta.
Ketua PAC GP Ansor Kota Tulungagung, Sahabat Achmad Agiz Aziz, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan rutin, dijelaskan bahwa tujuan utama acara ini adalah memperkuat pemahaman kader mengenai fiqih penyembelihan melalui kajian literatur kitab kuning.
“Kami ingin peserta tidak hanya tahu secara teori, tapi benar-benar memahami teknik penyembelihan yang benar dan tepat. Itulah mengapa di pelatihan ini kita langsung praktik menyembelih kambing di lokasi agar siap diamalkan di masyarakat,” ujar Sahabat Agiz.
Lebih lanjut, berharap melalui upgrading ini akan lahir regenerasi kader muda yang ahli di bidang juru sembelih (Juleha). Mengingat kebutuhan akan juru sembelih profesional yang memahami aspek syar’i dan higienis sangat tinggi, terutama menjelang momentum besar keagamaan.
“Semoga acara ini memberikan tambahan khazanah keilmuan dan memberikan kemanfaatan yang luas bagi umat. Kami ingin memastikan masyarakat merasa tenang karena hewan kurban atau konsumsi harian disembelih oleh tangan-tangan yang kompeten,” pungkasnya.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi praktik berlangsung. Dengan bimbingan para praktisi, 70 peserta yang didominasi pemuda ini belajar teknik memegang pisau, merebah hewan, hingga titik penyembelihan yang paling efektif sesuai standar syariat dan kesejahteraan hewan.

Penulis : Ok

 

Continue Reading

Berita

Reuni dan Halal Bihalal Lingkungan Manunggal, Warga Moyoketen–Gedangsewu Eratkan Persaudaraan Lewat Tradisi Kupatan

Published

on

Tulungagung,- Kebersamaan dan semangat persaudaraan terpancar dalam kegiatan Reuni dan Halal Bihalal Lingkungan Manunggal yang mempertemukan warga dari Desa Moyoketen hingga Desa Gedangsewu. Acara yang berlangsung pada Minggu, 29 Maret 2026 di BILKOP Brombong ini menjadi momentum istimewa untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus merajut kembali kebersamaan antarwarga.

Sejak pagi hari, ratusan warga dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi acara. Dengan penuh antusias, mereka hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas sederhana namun sarat makna. Suasana hangat dan penuh keakraban begitu terasa, memperlihatkan kuatnya ikatan kekeluargaan di antara masyarakat kedua desa.

Kepala Desa Moyoketen, Hari Purwanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ajang yang sangat penting untuk mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. menekankan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan juga sarana untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antar sesama.

“Acara hari ini adalah Reuni dan Halal Bihalal. Kami berharap di hari yang suci ini seluruh keluarga besar dapat saling memaafkan dengan tulus, baik lahir maupun batin, sehingga kebersamaan yang terjalin semakin kuat,” ungkapnya.

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang berlangsung penuh kehangatan. Warga tampak saling berbaur tanpa sekat, berbincang santai, serta mengenang kebersamaan di masa lalu. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa nilai gotong royong dan kekeluargaan masih terjaga dengan baik.

Gunawan selaku pengelola BILKOP Brombong juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran seluruh masyarakat.

“Saya sangat berterima kasih atas kehadiran seluruh keluarga besar dari Desa Gedangsewu hingga Desa Moyoketen. Semoga kebersamaan ini terus terjaga ,” ujarnya.

Kemeriahan acara semakin terasa saat memasuki sesi ramah tamah yang dilanjutkan dengan tradisi kupatan. Warga bersama-sama menikmati hidangan khas lebaran seperti ketupat dan aneka lauk pauk dalam suasana santai dan penuh kebersamaan. Tradisi makan bersama ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur dan kebahagiaan setelah merayakan Hari Raya.

Melalui kegiatan ini, semangat “manunggal” atau persatuan benar-benar terwujud. Reuni dan Halal Bihalal ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga silaturahmi dan keharmonisan antarwarga.

Acara pun ditutup dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Kebersamaan yang terjalin di BILKOP Brombong diharapkan dapat terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk selalu menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kebersamaan.

Penulis : Ok

 

Continue Reading

Berita

Berbagi Berkah Ramadan, PSHT Santuni 50 Anak Yatim di Plosokandang Tulungagung

Published

on

Tulungagung,- Semangat berbagi di bulan suci Ramadan kembali ditunjukkan oleh puluhan anggota Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dengan menggelar kegiatan santunan kepada anak yatim piatu. Kegiatan sosial tersebut berlangsung di Angkringan Lawe 3, Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, pada Senin sore (16/3) menjelang waktu berbuka puasa.

Dalam kegiatan penuh kepedulian tersebut, panitia memberikan santunan kepada sekitar 50 anak yatim piatu yang berasal dari Desa Plosokandang dan wilayah sekitarnya. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka sekaligus menghadirkan kebahagiaan di bulan Ramadan yang penuh berkah.

Acara berlangsung dengan suasana hangat dan penuh kebersamaan. Selain dihadiri para anggota PSHT, kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Plosokandang, tokoh masyarakat, serta warga sekitar yang turut memberikan dukungan dan apresiasi terhadap kegiatan sosial tersebut.

Momentum santunan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi, tetapi juga sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antara anggota PSHT dengan masyarakat. Keakraban terlihat saat para anggota berinteraksi langsung dengan anak-anak yatim yang hadir, menciptakan suasana kekeluargaan yang penuh makna.

Menariknya, kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan hiburan orkes dangdut yang menghibur para tamu undangan dan masyarakat yang hadir. Kehadiran hiburan tersebut semakin menambah semarak acara tanpa mengurangi nilai sosial dan kebersamaan yang menjadi tujuan utama kegiatan.

Usai penyerahan santunan, seluruh peserta kemudian melanjutkan kegiatan dengan buka puasa bersama. Momen ini dimanfaatkan sebagai ajang mempererat persaudaraan antara anggota PSHT, masyarakat, serta anak-anak yatim yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketua Panitia, Adinputra, menyampaikan bahwa kegiatan santunan anak yatim ini merupakan bentuk kepedulian sosial dari para anggota PSHT kepada sesama, khususnya kepada anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim, terlebih di bulan Ramadan yang penuh berkah. Semoga apa yang kami berikan dapat membantu dan membawa kebahagiaan bagi mereka,” ujarnya.

kegiatan sosial seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi bisa menjadi agenda rutin setiap tahun. Semoga semakin banyak pihak yang tergerak untuk berbagi dan peduli kepada sesama,” tambahnya.

Kegiatan santunan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut mendapatkan sambutan positif dari masyarakat sekitar. Banyak warga mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh PSHT karena dinilai mampu memperkuat nilai kepedulian sosial serta kebersamaan di tengah masyarakat.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat berbagi, kepedulian, dan persaudaraan di lingkungan masyarakat, khususnya di wilayah Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, dapat terus terjaga dan semakin berkembang di masa yang akan datang.

 

Penulis : Ok

Continue Reading

Trending