Berita

Megengan: Tradisi yang Menyambung Ruh Ramadhan, Pesantren Al Azhaar Hidupkan Spirit Menyambut Bulan Suci

Published

on

Tulungagung – Suasana Sabtu pagi (14/2/2026) di Gedung Dakwah Abi KH. M. Ihya Ulumiddin terasa berbeda dari biasanya. Ribuan jama’ah Majlis Dzikir Jama’i Al Azhaar memadati lokasi dengan satu tujuan: menyambut datangnya Ramadhan dengan hati yang penuh kegembiraan dan harap.

Pesantren Al Azhaar Kedungwaru kembali menghidupkan tradisi Megengan, sebuah warisan budaya spiritual yang sederhana namun kaya makna. Tradisi ini bukan hanya sekadar berkumpul atau makan bersama, tetapi menjadi ruang persiapan batin sebelum memasuki bulan suci.

Pengasuh Pesantren Al Azhaar, KH. Imam Mawardi Ridlwan, menegaskan bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan adalah tanda hati yang terpatri iman.

“Hati yang terpatri dengan iman selalu bergembira atas tibanya Ramadhan. Sikap itu akan memberi dampak ketersambungan ruh dengan Tarbiyah Ramadhan,” tutur beliau.

Menurut Abah Imam, Megengan adalah latihan jiwa agar iman selaras dengan tarbiyah Ramadhan. Ketika hati sudah siap, ibadah pun akan terasa lebih ringan dan penuh ketenangan.

Begitupun juga menjelaskan, orang yang telah menyambungkan ruhnya dengan Ramadlon akan menjalani ibadah dengan lebih mudah, lebih khusyuk, lebih istiqomah, serta merasakan Ramadhan sebagai kebahagiaan, bukan beban.

Tradisi Megengan, lanjut beliau, menjadi cara menyiapkan semangat agar Ramadhan dijalani dengan giat dan penuh kesungguhan.

“Tradisi Megengan sangat perlu dilanjutkan di setiap generasi,” tutup Abah Imam.

Di tengah hiruk-pikuk zaman digital yang sering melalaikan manusia dari kedalaman ruhani, Megengan hadir sebagai oase. Tradisi ini mengingatkan bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya soal pergantian kalender, tetapi tentang menyiapkan hati untuk menerima tarbiyah dan cahaya bulan suci. (Ok)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version