Jawa Timur
Wahyu Katentreman Bukan Tentang Kekuasaan, Tetapi Ketenangan Batin dan Ketulusan Hati
Tulungagung – Dalam sebuah wejangan penuh makna, Mbah Jalu menyampaikan filosofi kehidupan tentang “Wahyu Katentreman”, sebuah anugerah Tuhan yang menjadi dambaan setiap ksatria, kepala keluarga, maupun pemimpin masyarakat.
Menurut Mbah Jalu, Wahyu Katentreman merupakan perjalanan spiritual seorang pemimpin dalam mencari restu dan anugerah dari Sang Hyang Widhi atau Allah SWT agar mampu menciptakan kemakmuran, kedamaian, serta ketenteraman bagi keluarga maupun masyarakat yang dipimpinnya.
“Wahyu Katentreman bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Untuk mendapatkannya, seseorang harus melewati berbagai ujian dan godaan yang berat,” tutur Mbah Jalu.
Menjelaskan bahwa dalam perjalanan tersebut, seorang ksatria akan berhadapan dengan berbagai rintangan, mulai dari godaan harta benda, kekayaan, jabatan, hingga godaan wanita. Semua itu menjadi medan perang batin yang menentukan kualitas seorang pemimpin.
Perang terbesar sesungguhnya bukanlah melawan orang lain, melainkan melawan hawa nafsu dalam diri sendiri. Hanya mereka yang mampu menjaga ketenangan hati, keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan iman yang berhak menerima Wahyu Katentreman.
Mbah Jalu menegaskan bahwa seorang kepala keluarga memiliki kewajiban untuk menciptakan suasana damai di dalam rumah tangga. Harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, menjadi pelindung bagi istrinya, serta menjadi panutan bagi keluarga besarnya.
Begitu pula seorang pemimpin daerah atau pemimpin bangsa. Seorang pemimpin sejati harus memiliki jiwa ksatria, bersikap ngayomi, mengayemi, dan melindungi rakyat yang dipimpinnya. Kepentingan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
“Nomor satu yang harus dipikirkan pemimpin adalah umat dan rakyatnya. Jika rakyat hidup tenteram, maka keberkahan akan turun kepada negeri yang dipimpinnya,” pesan Mbah Jalu.
Petuah tersebut digambarkan melalui lakon pewayangan yang menampilkan Satria Pringgodani, Raden Gatotkaca, sebagai tokoh utama. Dalam perjalanannya mencari Wahyu Katentreman, Gatotkaca memperoleh bimbingan dari Ki Lurah Semar sebagai pamomong para Pandawa serta petunjuk dari Raja Dwarawati, Sri Prabu Kresna.
Dari kisah tersebut tersimpan pesan luhur bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada kekuasaan, kekayaan, ataupun kesaktian, melainkan pada kemampuan menjaga kejernihan hati, mengendalikan hawa nafsu, serta mengabdikan hidupnya untuk kesejahteraan rakyat dan keluarganya.
Wahyu Katentreman pada akhirnya bukan sekadar simbol keberuntungan, melainkan cerminan dari kualitas jiwa seorang pemimpin yang mampu menghadirkan rasa aman, damai, guyub, rukun, ayem, dan tenteram bagi sesama.
Pesan utama petuah Mbah Jalu: “Jadilah pemimpin yang mampu mengalahkan hawa nafsunya sendiri, karena dari sanalah lahir ketenteraman bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.”
Penulis : Ok & Mbah Jalu